Beberapa negara memang memiliki ciri khas masing-masing dalam
merayakan Lebaran. Perayaan Idul Fitri di Indonesia, misalnya, tak bisa
lepas dari mudik, tunjangan hari raya, ketupat, dan opor ayam. Bagaimana
dengan negara lain?
Festival Gula atau Seker Bayram merupakan
nama untuk Idul Fitri bagi orang Turki. Kemungkinan sebutan ini muncul
karena tradisi mereka saling mengantarkan manisan di hari raya Idul
Fitri. Seperti tradisi sungkem di Indonesia, anak-anak di sana juga
bersalaman dan sembah sujud kepada orangtua. Kemudian orangtua membalas
dengan ciuman di kedua pipi sebagai simbol kasih sayang. Setelah itu,
anak-anak pun mendapatkan hadiah berupa koin uang, permen, atau manisan.
Sementara itu, di Uni Emirat Arab, lelaki menggunakan thoub atau baju tradisional berupa jubah panjang berwarna putih lengkap dengan selendang ogal. Adapun perempuannya melukiskan henna di
tangan mereka. Aneka hadiah dibagikan, orang dewasa memberikan hadiah
kepada sesama. Seperti di Indonesia, anak-anak mendapatkan uang dari
orang yang lebih dewasa.
Di Iran, Idul Fitri disebut sebagai Eyde
Fetr. Aneka hidangan yang terbuat dari daging disajikan. Bahan daging
yang biasa dipakai adalah domba dan sapi. Sesuai tradisi, masyarakat
Iran tak hanya menikmati hidangan itu sendiri, tetapi juga memberikan
makanan kepada orang-orang tak mampu.
Setiap tahun orang-orang
akan berkumpul di Green Point, Cape Town, Afrika Selatan. Mereka
berkumpul untuk melihat Bulan di hari terakhir Ramadhan. Menjelang
berbuka puasa, mereka sudah berkumpul bersama kerabat sambil asyik
berbincang-bincang, menunggu munculnya Bulan. Azan maghrib kemudian
mengumandang dan Bulan yang muncul pun diumumkan. Di hari Idul Fitri,
warga melaksanakan shalat Id, dilanjutkan berkunjung ke rumah keluarga.
Bagaimana
dengan negara jiran Malaysia? Tradisi merayakan Lebaran di negeri
tetangga itu ternyata tak jauh berbeda dari masyarakat di Indonesia.
Malah bisa dibilang sangat mirip. Sebagai hidangan khas, masyarakat
Malaysia makan
ketupat, lemang, lontong, dan rendang. Setelah shalat Id, mereka
berziarah ke makam kerabat. Di rumah, anak-anak akan memberikan hormat
kepada orangtua. Orang yang sudah dewasa dan berpenghasilan memberikan
uang kepada kerabat yang lebih muda.
Ternyata, tak hanya
negara-negara dengan penduduk mayoritas memeluk Islam yang merayakan
Idul Fitri dengan keunikan masing-masing. Beberapa negara mayoritas
non-Muslim pun memiliki ciri khas tersendiri.
Sebut saja India.
Orang-orang akan berkumpul di Jama Masjid yang terletak di New Delhi
untuk melakukan shalat Id. Masjid ini menjadi pusat perayaan Idul Fitri
di New Delhi, ibu kota India. Mereka juga menyiapkan hidangan khusus
yang disebut dengan siwaiyaan, yakni campuran bihun manis dengan buah kering dan susu. Siwaiyaan hadir dalam beragam bentuk dan warna.
Di
negara kecil Fiji pun terdapat tradisi serupa. Negara tersebut memang
mayoritas non-Muslim. Namun, ada tradisi unik dalam perayaan Idul Fitri.
Hidangan spesial khas Idul Fitri adalah samai, mi manis yang dicampur dengan susu. Samai disajikan bersama samosas,
sejenis kari ayam atau daging. Uniknya, hanya kaum pria yang datang ke
masjid untuk shalat Id. Di beberapa bagian di Fiji, perempuan tidak
pergi ke masjid.
Para pendatang beragama Islam di Amerika Serikat,
Inggris, dan Kanada membawa tradisi perayaan Idul Fitri ke
negara-negara tersebut. Sama seperti di Indonesia, makan bersama
dilakukan setelah shalat Id. Tak terlupa baju baru untuk menyambut hari
kemenangan.
Jika Anda berminat untuk berwisata di negara-negara
tersebut saat Idul Fitri, jangan lupa memesan tiket penerbangan
jauh-jauh hari. Jika tidak, Anda bisa kehabisan tiket. Apalagi di
negara-negara mayoritas Muslim, orang-orang akan beramai-ramai ingin
pulang atau mudik ke negara masing-masing untuk merayakan Idul Fitri
bersama keluarga.


0 komentar:
Posting Komentar